Jumat, 12 April 2013

Letting go

Wadah angan-angan semakin terisi penuh, kini ketinggian semakin tak terengkuh.
Di dalamnya, ada cerita indah kita yang ga mungkin dijadikan nyata. Di dalamnya ada aku yang bahagia. Di dalamnya, ada kamu yg sedang jatuh cinta.namun, mimpi memang tidak akan selalu bertahan lama. Karna aku perlahan menyadari bahwa cerita kita memang tak pernah ada. Semesta mulai menyadarkanku dengan hujan kenyataan, agar aku bisa berhenti berkhayal diluar jangkauan.

Siapa sebenarnya yang berperan Antagonis hingga tak jarang aku menangis?  Aku sendiri yang terlalu jahat memberikan perasaan untuk disakit? Atau kamu yang ga mampun menjaga hatiku dengan hati-hati sampai retak berkeping-keping seperti ini? Menjaga? Ah aku salah lagi.

Dia memang tak pernah benar-benar mau memiliki. Ekspetasiku saja yang terlalu tinggi, sampai malas menginjak bumi. Cerita-cerita kita yang kukira akan sempurna ternyata tak berakhir bahagia.
Yang kutahu tentang masa depan itu, kamu. Tapi kamu malah menyuruhku untuk berpijak saja dalam masa lalu dan berhenti disitu.

Yang kutahu tentang perjuangan itu kita. Tapi ternyata hanya aku yang berusaha. Bagaimana bisa? Gimana bisa caranya agar kamu melihat apa yang kamu lihat sementara kita buta akan tujuan yang berbeda?

Hingga akhirnya hati kecilku membujuk untuk segera merelakan. Bukan hal yang sulit, mungkin hanya butuh waktu. Butuh waktu yang tak sebentar bagi hati untuk merapihkan serpihan serpihan. Butuh waktu tak sebentar bagikuuntuk menerbangkan kemungkinan-kemungkinan. Butuh waktu yang taak sebentar untuk menyadari, bahwa satu-satunya jalan adalah membiarkanmu pergi. Payah aku, dengan tanpa kebranian untuk mengaku. Kalah aku, yang menyerah sebelum benar-benar memperjuangkan.

Kau tahu, aku seperti sedang menunggu kereta yang tak oasti datangnya.. Aku seperti memperjuangkan apa yang belum mau diperjuangkan karna buatnya pun aku belum pantas diistimewakan. Mungkin lain kali bukan objeknya yang harus diperjuangkan, tapi kesetaraan perasaanya.

Awal yang menggebu, ternyata meninggalkan sisa-sisa rasa yang tak dinilai seperti abu. Tapi aku ingin menerbangkannya, mungkin agar sedikit saja bisa kau merasakannya. Meski aku tau, merasa saja tidak dapat mengubah apa-apa. Pun kepemilikan hatimu yang dipegang oleh dia. Aku berserah pada Tuhan sang penentu arah. Aku melambaikan tangan pada kamu yang bersiap masuk kedalam kolom masa lalu.

Nyatanya tidak perlu ada perjuangan. Sebab hatimu telah ada yang memenangkan. Sebagai pihak yang mengalah dan mengaku kalah, kemudian aku mengubah arah. Meski hati sepenuhnya masih ingin menujumu. Namun kenyaan menyadarkan bahwa rasa kita tak bisa saling temu.

Kukantongi bahagiamun dengannya, supaya aku akan tetap ingat bahwa aku boleh berada pada kondisi yang sama. Karna seharusnya bukan hanya hari-harimu saja yang indah tanpa jeda, tapi milikku juga.

?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...